Friday, May 18, 2012

The Bottom Billion


Judul  The Bottom Billion - Why The Poorest Countries Are Failing and What Can be Done About It
Pengarang : Paul Collier         
Penerbit:      Oxford Univ Press
Tahun   :       2008
Tebal    :       209  hal



Saat ini, sebagian besar negara-negara berkembang di Asia dan Amerika Latin selalu mengalami pertumbuhan ekonomi, yang telah berlangsung sejak tiga dekade terakhir, sehingga “untuk pertama kalinya, sejak tahun 80-an dunia mengalami penurunan kemiskinan.”
Sebaliknya, 58 negara-negara termiskin di Afrika, Asia Tengah, Haiti, dan beberapa lainnya yang meliputi satu miliar jiwa (80% diantaranya di Afrika), tidak hanya tidak bertumbuh, tetapi juga mengalami pertumbuhan negatif, bahkan kondisinya berantakan (failing apart). Sehingga menurut Collier, di dunia yang terdiri dari enam miliar jiwa dengan satu miliar penduduk negara maju dan empat miliar penduduk negara berkembang (yang bertumbuh ekonominya),”The countries at the bottom coexist with the twenty first century, but their reality is the fourteenth century: civil war,plague, ignorance,”  Dengan adanya globalisasi, hal ini semakin rentan, karena perang saudara dan ketidakpuasan penduduk negara-negara termiskin tersebut akan mendorong migrasi ke negara-negara maju dan menimbulkan masalah di negara maju dalam bentuk epidemi, terorisme dan obat-obatan terlarang. Hal ini telah terjadi di Inggris.
Pertanyaannya, mengapa perang saudara terus terjadi di negara-negara Afrika dan bantuan internasional seperti tidak ada hasilnya? Apa yang dapat dilakukan untuk memperbaikinya?

Menurut penulis, terdapat beberapa hal yang menyebabkan ekonomi negara-negara termiskin tersebut stagnan atau bahkan negatif, yaitu:
1.   Jebakan konflik
Perang saudara pernah dialami oleh 73% penduduk negara-negara termiskin. Konflik tergolong perang saudara jika korban pertempuran minimal 1000 orang. Namun apa yang menyebabkan suatu negara terjebak perang saudara? Pendapatan rendah, pertumbuhan rendah, dan ketergantungan pada komoditi primer.  Pendapatan rendah atau kemiskinan membuat banyak laki-laki muda kehilangan harapan sehingga bergabung dengan laskar pemberontak dengan harapan memperoleh kekayaan dan nyawa terasa murah, lemahnya ekonomi membuat pemerintahan lemah pula, dan adanya sumberdaya primer membuat pihak asing bersedia membayar konsesi kepada pemberontak asalkan usahanya dapat berjalan dengan aman. Selanjutnya negara yang pernah mengalami perang saudara mudah jatuh kembali dalam konflik. Mengapa? Perang menimbulkan saling ketidakpercayaan, sehingga setelah perang biasanya terjadi tingkat pembunuhan yang tinggi; ditambah dengan pendapatan yang rendah, maka perang dan kudeta rentan untuk muncul kembali, sehingga negara terjebak dalam perang atau kudeta yang tak pernah berakhir. Hal ini sesuai dengan data, yang menunjukkan bahwa perang saudara paling banyak terjadi di negara-negara termiskin, sedangkan di negara maju tidak pernah terjadi dan di negara berkembang lain sangat jarang.

2.   Jebakan sumberdaya alam
Sumberdaya alam yang melimpah menyebabkan suatu negara melupakan investasi di bidang-bidang lain yang  akan dapat meningkatkan kemampuan dan pendapatannya di masa datang, selain itu, banyaknya pendapatan mengakibatkan pemerintah merasa kuat sehingga bersifat autokratis, dan kurangnya kontrol mengakibatkan dana dari sumberdaya alam tidak digunakan secara efektif, misalnya banyak digunakan untuk proyek-proyek pemborosan yang penuh korupsi. Namun harga komoditi primer tidak stabil, sehingga ketika harga minyak turun, misalnya, negara mudah mengalami krisis dan ketika krisis justru pengeluaran untuk investasi yang dikurangi. Namun demokrasi tidak berarti lebih baik, karena pemerintah lebih memikirkan untuk memenangkan pemilihan berikutnya, maka kurang memperhatikan investasi, yang hasilnya bersifat jangka panjang, sehingga tingkat investasi rendah.
    Jebakan sumberdaya alam juga terjadi pada negara berpenghasilan menengah, seperti Rusia,Venezuela dan TImur Tengah. Sumberdaya alam membuat mereka tidak melakukan investasi pada bidang manufaktur dan jasa, yang berguna untuk pertumbuhan.

3.   Terkurung daratan dengan tetangga yang buruk
Penduduk Asia Tengah dan 38% penduduk Afrika tinggal di negara yang terkurung daratan, 30% diantaranya bahkan langka sumberdaya alam. Negara seperti ini tidak mudah melakukan ekspor, karena jarak ke pelabuhan jauh, dan jika negara tetangga pertumbuhan ekonominya juga stagnan atau negatif, tidak memiliki jalan raya yang baik, atau sedang mengalami perang, maka semakin sulitlah melakukan perdagangan untuk meningkatkan pendapatannya.

4.   Tata kelola pemerintahan buruk (bad governance) di negara kecil
Banyak dari negara-negara ini memiliki pemimpin, politisi dan pejabat publik yang luar biasa korup dan bersifat jahat, serta kekurangan atau tidak memiliki tenaga ahli yang diperlukan. Sementara ekonomi stagnan dan pertumbuhan penduduk tinggi. Negara-negara ini tergolong negara gagal, misalnya Angola, Republik Afrika Tengah, Haiti, Sudan, Somalia, Zimbabwe

Upaya meningkatkan kondisi negara-negara ini tergolong sulit, meskipun globalisasi menguntungkan negara berkembang lainnya. karena mereka telah ketinggalan kereta. Ada tiga unsur globalisasi, yaitu perdagangan barang, aliran modal, dan migrasi manusia. Apakah globalisasi dapat mendorong kemajuan negara-negara termiskin? .


Collier menyebut “economies of agglomeration”, yaitu keadaan dimana relokasi produksi dari negara maju ke negara berkembang yang berupah rendah telah dilakukan oleh banyak perusahaan; hal tersebut menimbulkan skala ekonomi, karena banyaknya tenaga kerja dan industri pendukung yang menunjang di lokasi yang sama akan meningkatkan efisiensi, sehingga negara berkembang dapat bersaing di pasar dunia, dan upah perlahan-lahan meningkat, sehingga mengarah pada konvergensi dengan negara maju.. Namun hal ini tidak terjadi di Afrika, karena dua pertiga penduduk tinggal di daerah yang terkurung daratan, sedangkan sisanya yang berada di daerah pantai tergolong negara gagal, sehingga tidak dipilih investor. Selanjutnya, karena proses relokasi telah berlangsung sejak 1980-an, maka ketika ada negara Afrika yang masuk pada tahun 1990-an, waktunya telah terlambat.

Aliran modal juga tidak masuk ke negara-negara ini karena bad governance, yang meningkatkan risiko investasi dan skala ekonomi per negara kecil. Kedua hal ini juga mengakibatkan pelarian modal oleh penduduk negara itu sendiri. Keadaan negara yang tanpa harapan selanjutnya mendorong emigrasi kaum terdidik ke negara-negara yang lebih maju. Dengan demikian globalisasi tidak memberi manfaat bagi negara-negara termiskin.
Untuk mengatasi masalah di atas, Collier mengusulkan beberapa hal, antara lain pemberian bantuan dengan menekankan pada peningkatan kemampuan masyarakat sendiri daripada pemerintah, meningkatkan tekanan untuk transparansi pemerintahan, intervensi militer selama beberapa tahun untuk meredakan konflik dan menjaga kestabilan keamanan, peningkatan penegakan hukum, dan kebijakan perdagangan internasional yang berpihak pada negara tersebut untuk pertumbuhan ekonomi.
Selain menjelaskan keadaan di Afrika, uraiannya mengenai jebakan sumberdaya alam dapat menerangkan keadaan yang terjadi di negara-negara lain yang memiliki sumberdaya alam berlimpah, seperti Indonesia misalnya. Usulan yang diajukan untuk pemecahan masalah juga dapat dipahamii, meskipun mungkin tidak seluruhnya dapat diterapkan. Intervensi militer, misalnya, mungkin tidak akan mudah jika konflik lokal yang terjadi terlalu rumit, seperti keadaan di Sudan dan Somalia.
Pendekatan penulis dalam mengatasi masalah kemiskinan memang berdasarkan pada pertumbuhan.. Baginya tidak ada gunanya pemberian bantuan kesehatan, pendidikan atau lainnya selama perekonomian stagnan atau negatif, karena hal tersebut tidak dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat di negara-negara termiskin dalam jangka panjang. Sebaliknya good governance, investasi, perluasan lapangan kerja, ketrampilan, dan akses jalan atau pelabuhan untuk ekspor disertai dengan peningkatan pelatihan dan pendidikan secara otomatis akan mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mengurangi kemiskinan,
Uraian Paul Collier ditulis dengan ringkas, padat dan sederhana, namun memberi banyak informasi bagi pembaca untuk memahami kondisi perbedaan ekonomi antar bangsa dan sebab kekerasan saat ini. Bahwa terdapat seperenam penduduk dunia termiskin yang jika terus diabaikan dapat (dan telah) mengancam keamanan kita semua, bahwa meningkatkan kesejahteraan mereka tidak mudah dan memerlukan kemauan serta koordinasi dari seluruh lembaga terkait negara maju yang selama ini menjadi donor, dan bahwa hal itu harus dilakukan segera. Uraiannya juga dapat membuat kita lebih memahami kondisi yang terjadi di negara berkembang seperti Indonesia, khususnya kekurangan yang masih terjadi. Dibandingkan buku sejenis, seperti The White Man’s Burden oleh William Easterly, The Bottom Billion lebih informatif dan terarah dengan data kuantitatif yang memadai, baik dalam menguraikan mengenai penyebab maupun penyelesaiannya.
Penulis buku ini, Paul Collier adalah profesor ekonomi dan Direktur Pusat Studi Ekonomi Afrika di Universitas Oxford, yang juga pernah bertugas di Bank Dunia. Buku ini memenangkan The Lionel Gelber Prize 2008 dan co-winner The Estoril Global Issues Distinguished Book Prize 2009.

Monday, April 09, 2012

Hot, Flat and Crowded

Judul        :  Hot, Flat and Crowded –    Mengapa dunia memerlukan revolusi hijau dan bagaimana kita memperbarui masa depan global kita
Pengarang:  Thomas L. Friedman
Penerjemah: Alex Tri Kantjono
Penerbit:      GPU
Tahun   :       2009
Tebal    :       582 hal

Melanjutkan buku sebelumnya The World is Flat, Friedman kali ini mencoba menggugah kesadaran pembaca akan betapa berbahayanya pemanasan global, sehingga diperlukan tindakan konkrit segera dalam bentuk kebijakan pemerintah yang berani untuk mengatasi masalah tersebut.

Pokok dari buku ini adalah, dunia yang panas, rata dan penuh sesak mengakibatkan timbulnya masalah berikut:
1.     Meningkatnya permintaan atas energi dan sumberdaya alam yang makin langka
2.     Perpindahan kekayaan secara besar-besaran ke negara kaya minyak dan para diktator mereka
3.     Terganggunya perubahan iklim
4.     Kemiskinan energi – terutama bagi negara tidak mampu
5.     Percepatan luar biasa penurunan keaneka-ragaman hayati

Yang dimaksud dengan sesak adalah jumlah penduduk dunia saat ini (2007) sebanyak 6,7 miliar akan menjadi 9,2 miliar pada tahun 2050, sebagian besar akan berada di negara kurang berkembang, yaitu dari 5,4 miliar menjadi 6,7 miliar pada tahun 2050. Dunia yang rata yaitu lebih banyak orang dapat turut serta dalam ekonomi global dan memperoleh manfaat berupa perbaikan ekonomi, yang semua ini dimungkinkan oleh meningkatnya kepemilikan komputer dan adanya internet, world wide web, web browser, revolusi work flow, dan runtuhnya komunisme. Sedangkan panas, ialah pemanasan global yaitu  dari CO2 yang dihasilkan manusia dari bermacam kegiatan, a.l. dari kendaraan, pembangkit listrik berbahan batu bara, minyak dan gas, penebangan dan pembakaran hutan (20% dari total), metana (CH4) dari ternak, pengeboran minyak, penambangan batubara, kotoran hewan, termasuk ternak yang bersendawa.

Selanjutnya Friedman mengemukakan bahwa keengganan negara-negara maju terutama negerinya dalam menurunkan konsumsi minyak mengakibatkan dana yang mengalir ke negara-negara Timur Tengah penghasil minyak demikian besarnya, sehingga mereka dapat menggunakannya untuk menyebarkan faham keagamaan yang bersifat radikal dan ekstrim serta  terorisme. Sementara itu, ketergantungan AS dan negara-negara Barat membuat mereka menutup mata tehadap kediktatoran penguasa negeri-negeri tersebut, termasuk penindasan yang mereka lakukan terhadap perempuan.Oleh karena itu dunia harus segera menurunkan penggunaan minyak bumi agar keamanan dunia menjadi lebih stabil. Ia mengambil contoh Cina sebagai negara yang serius menangani penghematan energi.

Secara keseluruhan, meskipun isinya merupakan kampanye untuk penghematan energi dan menjaga lingkungan hidup, penulis dapat menguraikannya secara menarik dengan banyak contoh, data dan kutipan. Namun buku ini ditulis dari sudut pandang seorang Amerika dan ditujukan terutama untuk bangsanya, karena itu contoh-contoh yang dikemukakan, kritik terhadap pemerintah, dan ajakan untuk melakukan tindakan atau perubahan yang diserukan adalah untuk masyarakat dan pemerintah Amerika. Oleh karena itu apabila terdapat kritik terhadap negara lain, belum tentu hal tersebut didasari oleh pengetahuan yang mendalam terhadap kondisi negara tersebut. Misalnya, penulis menyebutkan bahwa harga minyak dan pangan terdistorsi (lebih murah dari sebenarnya) karena harga tidak menunjukkan jumlah permintaan dan penawaran, sebab di negara-negara berkembang pemerintah selalu mensubsidi harga minyak untuk rakyatnya, sedangkan di negara maju pemerintah mensubsidi para petani. Namun tidak diuraikan, mengapa negara berkembang harus mensubsidi energi dan bagaimana jika tidak, apakah akan lebih baik bagi negara tersebut? Apa yang dapat dilakukan negara maju untuk membantu negara berkembang (miskin) dalam mengatasi masalah pemanasan global jika negara tersebut (seperti Indonesia) dianggap salah satu penyumbang utama masalah? Hal-hal tersebut tidak diuraikan, karena fokusnya adalah apa yang dapat dilakukan Amerika untuk memimpin dunia dalam revolusi hijau.
Namun secara keseluruhan, pesannya berlaku universal, sehingga masih bermanfaat untuk dibaca.

Wednesday, March 28, 2012

Karamel


                                                                                                             
Judul:  Karamel – Kumpulan Puisi Cinta dan Ilustrasi
Pengarang:  Ping Homeric
Penerbit:      KosaKataKita, Jakarta
Tahun    :       2010, Oktober
Tebal      :       viii+ 42 hal

Salah satu buku kumpulan puisi favorit saya adalah Only Companion, Japanese Poems of Love and Longing, yaitu kumpulan  tanka yang terentang selama seribu tahun dari para penyair Jepang sejak abad 9 hingga abad 20. Puisi-puisinya sederhana, ringkas, namun indah. Melalui pengamatan terhadap berbagai keadaan alam, seperti angin, hujan, musim, bulan, tumbuhan dan isi hutan, para penyair tersebut menggambarkan cinta, kesendirian dan kefanaan hidup manusia.
Karamel – terdiri dari 28 puisi -  bukan tanka, tapi memiliki kesederhanaan dan keindahan yang hampir sama, seperti puisi berikut ini,
kujala setiap senyummu
kuawetkan satu demi satu dengan teliti
lalu kuselipkan ke dalam buku hati
jadilah penunjuk halaman jiwa ini

Puisi lain tentang cinta dan kesendirian, misalnya:
I slice open that tranquil sky
to see if I can find your smile
hidden behind the span of pale clouds
instead, I find this massive silence
pouring down as the afternoon rain
soaking into my loneliness

Mengingatkan saya pada tanka berikut,
              At daybreak mist
              continues to falls, constant
as my faling tears.
And now this grieving wind
Sings through all that’s left behind
              (Lady Sagami)

              Carried by breezes,
The blossoms all drift away.
I can’t know where they go,
only that my heart remains
alone here deep inside me
    (Saigyo)

Puisi lainnya yang berkaitan dengan alam misalnya,
kuberdiri di bawah dinginnya mentari
di atas hamparan kelabu sabana yang menutupi wajah
ilalang kering tumbuh di padang ingatan tua
akankah angin musim menghembus mu kembali?
Terdapat juga puisi yang bernada humor,
matamu sampan
bulan terlelap di dalam
lentik bulu matamu, menari ilalang
             di tepian, aku datang
            mengail di jernihnya hatimu


Yang menarik dari buku ini, selain berbentuk hardcover juga setiap puisi disertai dengan ilustrasi  yang dibuat sendiri oleh pengarangnya, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap puisi. Hal ini membuat kumpulan puisi ini menyenangkan untuk dilihat.

Sunday, March 18, 2012

Sebutir Peluru dalam Buku


Judul    :        Sebutir Peluru dalam Buku – Kumpulan Cerpen
Pengarang:  Olyrinson
Penerbit:      Palagan Press, Pekanbaru
Tahun   :       2011, April
Tebal    :       108 hal


Tidak banyak kumpulan cerpen yang cerpen-cerpen di dalamnya memiliki kualitas setara. Seperti album lagu, pada umumnya hanya terdapat beberapa cerpen yang bagus, sebagian besar lainnya kurang, sehingga sering membuat kecewa.

Tidak demikian halnya dengan Sebutir Peluru. Selain temanya sejenis, kualitasnya juga merata, sehingga membaca empat belas cerpen dalam buku ini tidak mengecewakan. Tidak mengherankan juga, karena ternyata sebagian besar diantaranya pernah memenangkan lomba sayembara.

Tema dari seluruh cerpen yang terdapat dalam buku ini adalah penderitaan rakyat akibat kesewenang-wenangan penguasa dalam menjual tanah air, dengan menyingkirkan rakyat dari tanah adat mereka untuk perkebunan kelapa sawit maupun pertambangan minyak, khususnya di wilayah Riau.

Kisah-kisah kemiskinan dan penderitaan yang terdapat dalam kumpulan ini mungkin tampak ekstrim, namun sebenarnya tidak jauh berbeda dengan realitas yang tampil dalam acara “Jika Aku Menjadi” yang dihadirkan setiap hari melalui televisi. Disamping itu, dalam pengantarnya, pengarang menulis, “Kumpulan cerpen ini, adalah hampir seluruhnya realita. ….Karena begitu banyak kesusahan, kesengsaraan, air mata yang tumpah di negeri yang sangat saya cintai ini.”

Hampir semua cerpen mengambil sudut pandang seorang anak. Cerpen pertama tentang kegugupan seorang anak yang  berburu rusa sendirian untuk mencari nafkah karena ayahnya harus melawan pabrik gula yang merampas tanahnya. Cerpen berikut tentang seorang anak yang berusaha mencari nafkah dengan memperbaiki jalan karena ayahnya ditahan akibat mencuri kayu, disebabkan tanah mereka telah dirampas. Dua cerpen lainnya adalah kisah tentang perjuangan para wanita miskin berjuang hidup. Kisah-kisah lainnya adalah tentang penderitaan seorang anak yang ayahnya ditembak mati karena mencuri kelapa sawit, pipa bekas milik perusahaan minyak, kawat listrik, aluminium. Kisah paling mengharukan adalah tentang seorang anak yang terpaksa hendak menjual trenggiling kesayangan adiknya karena ayahnya ditangkap, namun tak berhasil karena adiknya melepas hewan tersebut, dan kisah tertembaknya seorang anak yang berusaha menyelamatkan gajah yang hendak dibunuh sebuah perusahaan minyak.

Meskipun semua kisahnya berakhir tragis, namun penulis tidak menyampaikannya secara berlebihan, meskipun ada beberapa yang seperti didramatisir, misalnya gambaran keluarga sangat miskin yang memiliki banyak anak, termasuk bayi (jumlah anak memang hanya akan menurun jika ekonomi membaik, lagipula tidak ada program pengendalian kelahiran lagi).  Cerita berjalan cepat dan cukup ringkas, namun menyisakan kesedihan yang dalam bagi pembacanya. Mungkin itulah kelebihan sastra dari berita: dapat membuat kita merasakan penderitaan orang lain, kehidupan orang lain.

Namun benarkah permasalahan perampasan tanah dan penderitaan rakyat demikian parah di Riau? Saya mencoba mencari datanya.
Menurut Jikalahari dan Kelompok Advokasi Masyarakat Riau, sampai dengan tahun 2007 jumlah hutan alam yang tersisa tinggal 2.254.188 hektar atau 25 % dari luas daratan Riau, dengan laju kerusakan hutan akibat perluasan perkebunan  sawit dan HTI secara massif mencapai 160 ribu hektar per tahun. Penyebabnya antara lain adalah target 6 juta hektar kebun sawit pada tahun 2015 oleh Presiden SBY. Sedangkan luas kebun sawit saja di Riau pada tahun 2010 telah mencapai 2,7 juta hektar.
Sementara itu pada tahun 2007 terdapat  35 sengketa lahan antara petani dan perusahaan sawit, yang meningkat menjadi 52  kasus pada tahun berikutnya. Sengketa tanah ini seringkali menimbulkan korban jiwa maupun harta benda rakyat di sekitar perkebunan. Misalnya konflik  di desa Batang Kumu, yang berlangsung sejak beberapa tahun terakhir, sengketa tanah antara penduduk dengan perusahaan sawit di daerah tersebut mengakibatkan penembakan, penangkapan dan pembakaran puluhan rumah rakyat. Dapat dibayangkan bahwa  penanganan puluhan kasus lainnya tidak jauh berbeda pula.
Berdasarkan data-data di atas, maka cerpen-cerpen Olyrinson merupakan gambaran dari kondisi masyarakat asli Riau yang terpinggirkan dan termiskinkan akibat dirampasnya tanah-tanah mereka oleh pengusaha perkebunan atau sumberdaya alam lainnya yang didukung oleh aparat negara.
Sebuah realitas menyedihkan yang harus dihadapi rakyat negara kita, dan bukan saja di Riau, tetapi juga di wilayah lain Indonesia yang sumberdaya alamnya dieksploitasi habis-habisan. Kumpulan cerpen ini adalah suara rakyat yang tertindas.

Maryam


Judul         
P   
 Pengarang: Okky Madasari
Penerbit:      GPU
Tahun  :       2012, Februari
Tebal   :       275 hal


Intoleransi, kekerasan karena agama, ketidakadilan, itulah tema novel ini. 
Kisahnya sederhana. Maryam, pengikut aliran Ahmadiyah yang telah turun temurun merasa heran ketika pulang ke kampungnya di Lombok, karena para tetangganya bersikap memusuhinya. Lebih mengejutkan lagi, ternyata keluarganya telah diusir dari rumah mereka karena menjadi pengikut Ahmadiyah. Ia sendiri baru bercerai, karena keluarga suaminya terus menerus menganggapnya sesat dan suaminya tak berani membela dirinya. Kesedihan akhirnya membuat Maryam tidak ingin bekerja di Jakarta lagi dan memutuskan untuk menetap di Lombok bersama orang tuanya dan menuruti nasihat mereka untuk menikah lagi dengan sesama pengikut Ahmadiyah. Sementara itu, orang tuanya membangun kembali hidup mereka dengan memulai usaha baru, sedangkan pengikut lainnya membangun hidup mereka di perumahan baru hasil sumbangan sesama pengikut Ahmadiyah. Namun rupanya semua itu belum berakhir. Perumahan baru tersebut diserang, dan mereka harus memilih: meninggalkan keyakinan mereka dan kembali ke rumah, atau kembali ke rumah namun tidak seorangpun dapat menjamin keselamatan mereka, termasuk pemerintah. Manakah yang mereka pilih?  
Fanatisme, kekerasan, intoleransi, seolah dilegalkan negara, yang tidak berani dan tidak bersedia melindungi warganya yang sedikit berbeda keyakinan.

Novel ini ditulis dengan bahasa yang ringan layaknya novel pop pada umumnya, meski kisahnya adalah tentang penderitaan yang dialami para pengikut Ahmadiyah dan ketidakpedulian negara. Dilihat dari temanya, merupakan sesuatu yang jarang ditulis pengarang lainnya, sehingga patut dihargai. Namun dari sisi lainnya seperti alur, gaya tulisan dan bahasa, tidak istimewa atau biasa saja bahkan cenderung klise, sehingga di beberapa bagian membuat saya ingin cepat-cepat melewatinya saja, khususnya di bagian cerita yang mengisahkan kehidupan pribadi Maryam. Meskipun demikian, pada bagian tertentu, misalnya saat menggambarkan kemarahan tokoh novel yang mempertanyakan keadilan atau ketidakpedulian negara, penulis berhasil menggambarkannya dengan baik. Sayangnya, cover buku ini seperti dibuat oleh orang yang baru belajar menggambar: sangat buruk.

Meningkatnya gerakan radikalisme di Indonesia (sehingga masyarakat menjadi semakin fanatik) merupakan salah satu hal yang membuat masyarakat tampak tidak peduli bahkan ketika terdapat pembunuhan keji terhadap pengikut Ahmadiyah tahun lalu. Suatu hal yang sangat disayangkan dapat terjadi di negeri ini, yang selama berpuluh tahun dikenal toleran dan bukan merupakan negara Islam. Apakah Indonesia telah mengikuti jejak negara-negara Islam seperti Arab Saudi, Pakistan dan sejenisnya?

Hal ini mengingatkan saya pada riwayat Abdus Salam dari Pakistan, ilmuwan muslim pertama (dan satu2nya?) yang menerima Nobel  fisika pada tahun 1979 bersama Steven Weinberg dan Paul Matthews. Abdus Salam adalah seorang pengikut Ahmadiyah, sehingga ketika Pakistan pada tahun 1974 menyatakan bahwa pengikut Ahmadi adalah bukan muslim dan terjadi banyak pembunuhan terhadap pengikut Ahmadi, ia juga harus mengungsi dari rumahnya.  Meskipun demikian, dengan reputasi yang dimilikinya, sepanjang karirnya ia berusaha keras meningkatkan status sains di negara-negara Islam agar dapat mengejar ketertinggalan dari Barat, bangga akan kontribusi sains Islam di masa lalu, dan sepanjang hidupnya merupakan seorang pemeluk Islam yang taat, yang tidak pernah melewatkan berdoa dan mendengarkan Quran. Ia juga membantu pengembangan sains di Pakistan, meskipun tidak tinggal di negara tersebut, dan tidak pernah melepas kewarganegaraannya. Walaupun demikian, di negerinya ia tidak dihargai, hanya karena ia pengikut Ahmadi. Demikian pula usahanya untuk negara-negara Islam yang dicintainya, kurang berhasil karena sebagai pengikut  Ahmadi, dianggap bukan Islam, sehingga tidak dihargai. Tidak hanya ketika masih hidup, bahkan batu nisannya pun, yang bertuliskan, “…..,The First Muslim Nobel Laureate,” dirusak sehingga menjadi,”..The First…..Nobel Laureate.”

Demikianlah, agama, fanatisme, begitu dalam kekerasan dan kebencian yang bisa dibawanya…..

Monday, March 05, 2012

A Universe from Nothing



Judul : A Universe from Nothing – Why there is
something rather than nothing
Pengarang: Lawrence M. Krauss
Penerbit: Free Press
Tahun : 2012, Jan.
Tebal : 202 hal



Pertanyaan mengenai asal mula alam semesta telah muncul sejak ribuan tahun lalu, sejak manusia dapat berpikir, dan menimbulkan banyak mitologi, filsafat dan dasar bagi agama: yaitu bahwa alam semesta diciptakan, karena sesuatu tidak mungkin tercipta dengan sendirinya dari ketiadaan.

Namun menurut L. Krauss, jawaban atas pertanyaan mengenai alam semesta hanya dapat diperoleh dengan menyelidiki alam tersebut berdasarkan fakta empiris, dengan teori yang dapat diuji melalui eksperimen, tidak dengan renungan filsafat atau wahyu. Dan perkembangan kosmologi selama dua dekade terakhir sangat pesat sehingga dapat menjawab pertanyaan yang selama ini dianggap merupakan wilayah filsafat atau agama.

Uraian penulis dimulai dengan sejarah penemuan mengembangnya alam semesta pada awal abad 20, yang kemudian mengarahkan pada munculnya teori Big Bang.

Uraian selanjutnya adalah penjelasan mengenai tiga bentuk alam semesta, yaitu closed (suatu ketika akan mengalami big crunch), open (terus mengembang tak terbatas) dan flat (terus mengembang namun dengan kecepatan yang semakin menurun), serta penelitian-penelitian yang telah dilakukan sehingga menghasilkan penemuan bahwa alam semesta kita flat.

Penulis juga menguraikan bagaimana pengetahuan akan fisika partikel dan selanjutnya teori inflationary universe, mekanika kuantum dan relativitas umum menghasilkan kesimpulan bahwa alam semesta dapat muncul dari ketiadaan. Data bahwa rata-rata energy gravitasional Newton adalah 0 dan alam semesta flat juga merupakan indikator bahwa alam semesta berasal dari ketiadaan.
Yang dimaksud dengan ketiadaan adalah adanya ruang tanpa apapun di dalamnya, dan dalam ruang tersebut hukum fisika berlaku.

Diuraikan pula masa depan alam semesta, dimana kelak (dua triliun tahun lagi) alam semesta demikian mengembang sehingga seluruh galaksi lain tidak akan terlihat kecuali Bima Sakti, dan seluruh jejak Big Bang telah terhapus, sehingga jika manusia masih ada, mereka tidak dapat memiliki pengetahuan seperti yang kita peroleh saat ini.
Penjelasan dalam buku ini dilengkapi dengan gambar yang cukup membantu dan tanpa persamaan matematika, namun juga tidak mudah bagi pembaca biasa tanpa latar belakang fisika. Membaca buku lain yang berkaitan, seperti buku Inflationary Universe oleh pencetusnya yaitu Alan Guth akan banyak membantu.

Meskipun demikian, banyak hal menarik yang dikemukakan oleh penulis, juga Richard Dawkins, yang menulis afterword. Keduanya menekankan perlunya kesiapan menghadapi fakta baru yang akan terus datang dari penemuan sains terakhir: apakah manusia sanggup menghadapi kenyataan jika sains akhirnya mengungkapkan bahwa alam semesta dapat tercipta dengan sendirinya, abadi, dan manusia hanya sesuatu yang tercipta secara kebetulan dari proses tersebut?

Tidak ada yang tahu apakah sains akan dapat mencapai tahap tersebut dengan penuh kepastian. Namun sudah waktunya manusia mulai menerima kenyataan bahwa dia bukanlah pusat alam semesta, dan satu-satunya jalan untuk memahami posisinya adalah dengan menyelidiki alam itu sendiri.

Teosofi, Nasionalisme dan Elite Modern Indonesia


Judul : Teosofi, Nasionalisme dan Elite Modern Indonesia
Pengarang: Iskandar P. Nugraha
Penerbit: Komunitas Bambu
Tahun : 2011, Nov. (Cetakan II)
Tebal : 210 hal

Sejarah nasionalisme di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peranan gerakan teosofi, demikian pula azas pluralisme yang menjadi dasar masyarakat plural Indonesia modern.
Demikian inti dari buku ini, yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2001.

Teosofi adalah aliran pemikiran yang berusaha menggabungkan budaya Barat dan Timur. Gerakan ini didirikan oleh Helen Petrovina Bavatsky di New York pada tahun 1875, sebagai reaksi atas materialism dan ateisme. Tujuan gerakan ini adalah untuk memperbaiki rakyat melalui cara batin, dengan membentuk persaudaraan universal tanpa membedakan ras, agama, jenis kelamin, kasta maupun warna kulit dan mempelajari perbandingan agama, filsafat, serta menyelidiki hukum-hukum alam yang belum dapat diterangkan.

Selanjutnya di bawah kepemimpinan Annie Besant pada tahun 1895, gerakan teosofi mulai berkembang ke seluruh dunia termasuk Hindia Belanda dan dibentuk pula organisasi lainnya untuk mendukung gerakan ini, antara lain Perkumpulan Freemansory, Moeslim Bond dan Gereja Katolik Bebas.

Di Indonesia gerakan ini mulai berdiri pada tahun 1883 di Pekalongan, dipimpin seorang bangsawan Eropa, kemudian menyebar ke Surabaya (1903), Yogyakarta (1904) dan Surakarta (1905), dengan anggota terdiri dari orang Belanda, bumiputra terutama Jawa, dan Tionghoa. Jumlah anggota paling banyak terjadi pada tahun 1928, yaitu 1.589 orang.

Gerakan teosofi di Indonesia berkembang saat Belanda baru menjalankan Politik Etis, yaitu usaha membayar “hutang” kepada bangsa yang dijajah dengan menyelenggarakan perbaikan ekonomi dan sosial budaya. Banyak diantara mereka yang mendukung perbaikan sosial budaya atau Politik Asosiasi merupakan anggota teosofi, sehingga gerakan tersebut cenderung menjadi tempat mewujudkan cita-cita asosiasi mereka.

Di lain pihak, sifat gerakan teosofi yang menjunjung persamaan meskipun berbeda bangsa atau keyakinan dan menghargai budaya bangsa yang dijajah menarik minat kaum bumiputra yang saat itu sedang belajar di sekolah kedokteran dan hukum untuk menjadi anggota. Kelak pendidikan dan gagasan-gagasan yang diperoleh selama bergabung dalam gerakan ini akan mempengaruhi pemikiran mereka, yang di kemudian hari menjadi pendiri Budi Utomo, Indische Partij, konseptor BPUPKI, dan sastrawan Pujangga Baru.

Selain melakukan kegiatan kebudayaan dalam bentuk ceramah-ceramah, gerakan teosofi juga mengumpulkan dan menerbitkan terjemahan buku sejarah dan budaya asli Jawa, mendirikan perpustakaan, sekolah-sekolah, dan kursus membaca.

Perpustakaan teosofi juga menyumbang munculnya gagasan nasionalisme dalam diri presiden pertama RI Sukarno,” Bapakku seorang teosof, karena itu aku boleh memasuki peti harta ini, dimana tak ada batasnya buat seorang yang miskin.Aku menyelam lama sekali ke dalam dunia kebatinan ini. Disana aku bertemu dengan orang-orang besar. Buah pikiran mereka menjadi buah pikiranku.Cita-cita mereka adalah pendirian dasarku…” (hal. 79)

Menurut penulis, para tokoh intelektual Indonesia di awal pergerakan ini memiliki ciri gerakan teosofi, yaitu menghargai nilai-nilai asli Jawa, toleransi tinggi terhadap masyarakat majemuk, dan kecenderungan pemikiran yang sekuler.
Setelah gerakan teosofi meredup, yaitu pada tahun 1930-an, para anggotanya berkecimpung dalam gerakan nasionalis untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia. Namun pengaruh teosofi yang bersifat pluralisme dan sekuler tampaknya terus melekat.
Buku ini menarik, karena selama ini hampir tidak ada yang membahas bahwa gerakan teosofi memiliki andil dalam membentuk pemikiran para tokoh pergerakan nasional Indonesia. Kita hanya mengetahui bahwa para tokoh pergerakan Indonesia bersifat nasionalis, toleran dan cenderung sekuler, namun tidak mengetahui bahwa sebelumnya terdapat gerakan lain yang memperngaruhi pengalaman dan pemikiran mereka.

Cerita Cinta Enrico

Judul : Cerita Cinta Enrico
Pengarang: Ayu Utami
Penerbit: KPG
Tahun : 2012, Feb.
Tebal : 241 hal

Buku ini tampaknya adalah riwayat hidup pasangan pengarang, sekaligus mungkin penjelasan kepada para pembacanya selama ini, mengapa ia yang selama ini dikenal anti pernikahan, akhirnya toh menikah juga.

Riwayat hidup Prasetya Riska, yang dalam novel ini disebut Enrico – nama yang semula ingin diberikan sang ibu untuknya – dikisahkan secara urut, dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa bersejarah yang terjadi di Indonesia di masa lahir dan kecilnya, dan terutama menceritakan konflik batin seorang laki-laki antara cinta dan pemujaan dengan kemarahan dan kekecewaan pada sang ibu.

Seperti menegaskan teori Freud, dikisahkan bagaimana pengaruh ibu Enrico demikian kuat mempengaruhi jiwanya. Enrico memuja ibunya, yang periang, cerdas dan modern – dalam novel digambarkan dengan bekerja di kantor, mengenakan rok dan sepatu pantovel yang gagah, di saat masih jarang terdapat perempuan bekerja - sampai kemudian kakaknya meninggal dan ibunya yang terlalu sedih kemudian berubah, menjadi penganut aliran Yehova yang fanatik, kehilangan kepribadiannya semula yang menyenangkan, dan berubah sikap kepadanya. Perubahan sifat ibunya karena agama, membuat Enrico membenci agama, berusaha mencari kebebasan jauh dari keluarga, dan tidak ingin terikat. Ia tidak mau menikah, memiliki anak, bekerja di suatu lembaga, atau memiliki anak buah, dan memilih menjadi fotografer lepas. Sampai suatu saat, yaitu ketika kedua orang tuanya telah tiada, ia merasakan kebebasan yang dimilikinya tiada artinya lagi, karena tidak ada siapapun yang dimilikinya.. Saat itulah ia bertemu kekasihnya…sang penulis novel - yang mengingatkannya pada ibunya - yang datang kepadanya begitu saja, seolah ada yang mengirimkannya…

Sangat sederhana. Seperti sebuah kebetulan. Seperti sebuah novel. Bagaimana mungkin dua orang yang sama-sama menghindari ikatan tiba-tiba bertemu begitu saja pada saat yang tepat? Apakah hidup umumnya memang seperti sebuah novel, berisi banyak kebetulan, namun tidak kita sadari? Apakah langkanya suatu kebetulan yang menyenangkan, membuat kehidupan sebagian besar dari kita membosankan atau mengecewakan?
Yang membuat saya teringat tulisan Milan Kundera,”Kehidupan sehari-hari kita dipenuhi dengan kebetulan-kebetulan, atau lebih tepatnya, dengan pertemuan tak disengaja dengan orang lain serta peristiwa-peristiwa yang terjadi kebetulan lainnya yang kita sebut coincidence…dipandu oleh rasa keindahannya, seseorang akan mentransformasikan sebuah kejadian kebetulan menjadi sebuah motif, yang kemudian mengambil tempat permanen dalam kehidupannya. ...Tanpa disadari, seseorang akan menyusun hidupnya mengikuti hukum-hukum keindahan walau dalam keadaan yang paling menyusahkan sekalipun.”

Friday, January 27, 2012

The Handmaid's Tale

Judul : The Handmaid’s Tale
Pengarang: Margaret Atwood
Penerbit: Folio Society
Tahun : 2012
Tebal : 318 hal


The Handmaid’s Tale adalah kisah tentang masyarakat teokrasi di masa depan, dimana kebebasan tidak ada lagi, teknologi dan ilmu pengetahuan lenyap digantikan ayat-ayat dari kitab suci, dan perempuan kembali tidak memiliki hak apapun di masyarakat.
Terinspirasi oleh novel-novel dystopia seperti 1984, Fahrenheit 451 dan Brave New World, sebagian keadaan yang digambarkan dalam novel telah terjadi di beberapa bagian dunia.

Cerita dituturkan oleh Offred, seorang handmaid, yaitu perempuan yang tugasnya memberi keturunan pada pasangan suami istri elit penguasa. Penguasa baru, yaitu pendiri republik Gilead mengambil-alih pemerintahan demokratis Amerika setelah ada serangan besar dari teroris Islam, dengan mendasarkan pemerintahan pada keyakinan Kristen fundamentalis. Sejak masa pemerintahan ini, maka semua perempuan dilarang bekerja, dilarang memiliki rekening dan property, membaca, menulis, dan tidak dapat bepergian ke luar rumah sendiri. Setiap orang wajib mengenakan pakaian yang sesuai dengan kelasnya dalam masyarakat, yang dibedakan warnanya, dan semua perempuan wajib mengenakan gaun panjang yang tertutup penutup kepala, sepatu tanpa hak, serta berjalan menunduk. Film, majalah, musik, buku selain kitab suci dan barang-barang lain yang kurang berguna dilarang, dan ilmuwan serta dokter kehilangan pekerjaan karena univesitas dan rumah sakit ditutup.

Negara masih terus menghadapi perang dan pertumbuhan populasi sejak beberapa waktu sebelumnya telah negatif. Kondisi ini dan banyaknya radiasi kimia akibat perang mengakibatkan kemampuan reproduksi merupakan barang langka. Oleh karena itu pemerintahan baru membuat peraturan yang memaksa perempuan yang menikah untuk kedua kalinya atau tidak terikat pernikahan namun pernah memiliki anak menjadi handmaid, dengan membunuh pasangan mereka dan mengambil anak mereka sendiri untuk dididik negara, serta menempatkan mereka dalam rumah para pasangan penguasa yang tidak dapat memiliki anak. Offred adalah salah satu diantara perempuan tersebut. Suaminya mungkin dibunuh dan anak perempuannya diambil oleh negara. Sementara itu, perempuan lanjut usia, dan mereka yang tidak dapat bereproduksi dibuang ke koloni, untuk membersihkan bahan-bahan berbahaya sisa perang yang terkena radiasi, sedangkan perempuan penurut yang tidak menjadi istri penguasa atau Commander bertugas mengindoktrinasi perempuan-perempuan muda untuk patuh pada ideologi baru negara.

Novel ini menggambarkan kehidupan Offred yang membosankan di rumah Commander. Dari seorang perempuan bekerja yang mandiri dan memiliki keluarga menjadi perempuan yang setiap hari tidak melakukan apa-apa kecuali pergi berbelanja makanan di pagi hari bersama Offglen, seorang handmaid lain, menyerahkan barang belanjaan kepada dua pembantu perempuan, dan berdoa bersama keluarga Commander di sore hari, di dekat istri yang tidak menyukai kehadirannya. Hiburan satu-satunya adalah melewati Dinding, yang memajang orang-orang yang baru dihukum gantung, untuk melihat siapa yang dihukum hari itu.


Selain keluarga Commander dan dua pembantu, terdapat pula penjaga merangkap pengemudi bernama Nick yang masih muda. Perlahan-lahan Offred mengenal siapa sebenarnya Offglen, Commander dan Nick. Commander tidaklah demikian kaku, Offglen tidaklah sesoleh penampilannya, dan Nick tampaknya bersedia menolongnya.

 Apakah akhirnya ia memang bisa keluar dari negeri tersebut ke negara lain yang masih demokratis? Inggris misalnya, atau Jepang, yang digambarkan warganya berkunjung sebagai turis dan terheran-heran melihat Offred memakai gaun merah panjang tertutup di musim panas sehingga meminta pemandu menanyakan,”Apakah engkau bahagia?” Sementara Offred dengan iri melihat kebebasan dan pakaian turis tersebut sambil terkenang akan masa-masa ia sendiri memiliki kebebasan seperti itu. Ia juga mengingat dengan sedih kebenaran kata-kata ibunya – yang telah dibuang ke koloni – yang selalu memperingatkan dirinya akan ancaman tibanya masa rezim tersebut, dan kekecewaan ibunya karena ia tidak pernah menganggapnya dengan serius, sehingga tidak membantu perjuangan ibunya mempertahankan kebebasan yang mereka miliki saat itu. Offred mengira gerakan keagamaan tersebut tidak akan bisa menguasai negerinya, bahwa jumlah mereka kecil sehingga tidak akan dapat mempengaruhi atau mengubah kondisi negerinya secara drastis. Tapi ia tidak memperhatikan, bahwa segalanya berjalan secara perlahan-lahan, tanpa ia sadari semua berubah secara perlahan, dan ketika ia menyadarinya, semua sudah terlambat. Tidak hanya dia, tapi banyak orang yang menganggap remeh gerakan tersebut terlambat menyadarinya, sehingga rezim tersebut dapat menguasai mereka. Hanya orang-orang seperti ibunya, yang mengetahui keadaan di zaman yang lebih lama, yang bisa menyadari ancaman tersebut.

Sebagian orang berpendapat bahwa kejadian di atas tidak mungkin dapat terjadi di Amerika. Mungkin tidak disana. Tapi bagaimana dengan di tempat lain? Bagaimana dengan di Iran, Afghanistan, Sudan? Indonesia? Atwood menulis novelnya pada tahun 1985. Pada tahun tersebut telah terjadi revolusi Iran, namun belum muncul pemerintahan Taliban (1996-2001), belum terjadi peristiwa 9/11, 2001, belum terlalu banyak terjadi terorisme dan radikalisme.

Revolusi Iran mewajibkan kembali pemakaian hijaab, Taliban menghapus semua hak perempuan, teknologi dan seni, gerakan keagamaan sekelompok kecil orang di Indonesia mengubah pikiran dan pakaian yang dikenakan perempuan muda hanya dalam dua puluh tahun – yang tak dapat dipahami atau terbayangkan oleh dua generasi di atasnya…
Apakah The Handmaid’s Tale berlebihan, ataukah ia ramalan buruk yang perlahan menjadi kenyataan?

Mungkin itu sebabnya, novel ini terus diterbitkan dan dibaca. Ia mengingatkan kita, terutama perempuan, apa yang akan terjadi jika pemerintahan teokrasi berkuasa – dari agama monoteis apapun. Dan bahwa perubahan dapat terjadi perlahan-lahan tanpa kita sadari jika kita selalu menganggap segalanya kecil dan tidak mungkin, sampai tiba-tiba segala sesuatunya sudah terlambat. Namun masih ada sedikit harapan – tidak semua tempat mengalami hal itu. Masih ada tempat-tempat, negara, dimana hal tersebut tidak terjadi. Paling tidak demikian pesan novel ini: jika di suatu tempat ada pemerintahan diktator teokrasi yang menindas perempuan, tidak berarti di semua tempat seperti itu, masih ada negara lain yang bersifat liberal.


Edisi baru novel ini yang diterbitkan oleh Folio Society dilengkapi dengan pengantar baru dari pengarang, dan ilustrasi yang sangat bagus dan sesuai dari Anna dan Elena Balbusso. Dalam pengantarnya, Atwood menyatakan, bahwa ia tidak mengarang sesuatu yang belum pernah dilakukan manusia. Semua yang ditulisnya pernah dilakukan manusia di masa yang lalu di dunia Barat, sehingga dalam novelnya tidak ada sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Namun demikian, ia sendiri tidak mengira bahwa ciptaannya akan sedemikian populer dan di beberapa wilayah mendekati kenyataan.

Jalan-Jalan ke Antartika



Judul : Jalan-jalan ke Antartika – Kisah Peneliti Indonesia Pertama di Antartika
Pengarang: Agus Supangat
Penerbit: KPG
Tahun : 2011, Nov.
Tebal : 203 hal



Jalan-jalan ke Eropa atau Amerika merupakan hal biasa, namun tidak semua orang dapat menginjakkan kaki di daratan Antartika atau kutub Selatan, apalagi bagi orang Indonesia yang berasal dari negeri tropis.

Agus Supangat, peneliti dari ITB yang tampaknya gemar bertualang, mengisahkan perjalanannya mengikuti penelitian oseanografi dan biologi laut di Antartika bersama Muhamad Lukman dan tujuh puluhan peneliti lainnya dari berbagai negara menggunakan kapal peneliti Australia, Aurora Australis pada bulan Februari hingga Maret 2002. Selain mereka berdua, terdapat tiga peneliti Indonesia lainnya dalam misi ini, namun mereka hanya sampai di Hobart, Tasmania.

Australia memiliki tiga pusat penelitian di Antartika. Sedangkan negara Asia yang memiliki pusat penelitian disana adalah Cina, Jepang, Korea Selatan dan India. Peneliti Indonesia diikutsertakan karena ketika itu Indonesia ingin menjadi anggota Antartic Treaty, dan penulis adalah orang Indonesia pertama yang mengikuti ekspedisi kesana.

Selain mengisahkan kegiatannya selama perjalanan tersebut, Agus Supangat juga menjelaskan tentang kondisi alam di kutub Selatan dan sedikit latar belakang penelitian yang dilakukan. Misalnya, mengapa Antartika merupakan benua yang paling dingin, kering dan berangin, kaitan antara kondisi arus Sirkumpolar Antartika dengan arus lintas Indonesia. dan pengaruh kelancaran arus tersebut terhadap kestabilan atau perubahan iklim dunia.
Dikisahkan juga tentang permintaan presiden Indonesia ketika itu, yaitu Megawati, untuk membawa prasasti yang ditanda-tangani oleh presiden, guna ditempatkan di pusat penelitian Australia di Antartika, sebagai tanda persahabatan kedua negara, dan keharuan penulis melihat bendera merah putih berkibar disana untuk pertama kali.

Ketika pertama kali menaiki kapal, penulis terkejut melihat kemewahan dan besarnya kapal tersebut, yang berukuran lima kali kapal penelitian Indonesia Baruna Jaya, namun setelah mengalami sendiri bahwa di masa kini pun perjalanan ke Antartika merupakan sesuatu yang sulit dan berbahaya, ia dapat mengerti mengapa diperlukan kapal yang besar dan fasilitas seperti hotel berbintang. Agus Supangat juga menceritakan kerja sama dan kerendah hatian para peneliti yang mengikuti ekspedisi, antara lain mereka tidak segan-segan membantu pekerjaan para awak kapal.
Semua kisah selama pelayaran dan beberapa hari tinggal di daratan Antartika tersebut diuraikan dengan ringan, dilengkapi sejumlah foto.
Di akhir buku, penulis kembali mengingatkan pembaca akan pentingnya mencegah pemanasan global.

Buku ini ditulis dengan sederhana, namun dapat mendorong minat pembaca muda yang menyukai laut dan alam bebas untuk menjadi peneliti. Akan lebih menarik jika penulis juga sedikit memasukkan sejarah penjelajahan ke Antartika dan hasil penelitian lain yang terkait wilayah tersebut, yang berkaitan dengan penurunan kondisi lingkungan di wilayah Antartika.

Sunday, January 22, 2012

Never Let Me Go


Judul : Never Let Me Go (Jangan Lepaskan Aku)
Pengarang: Kazuo Ishiguro
Penerjemah: Gita Yuliani
Penerbit: GPU
Tahun : 2011, Sept
Tebal : 358 hal




Ketika sebagian orang masih memperdebatkan, apakah jika manusia dapat menciptakan klon dirinya sendiri, klon tersebut memiliki jiwa, Ishiguro mencoba menjawabnya dalam novel ini.

Kisahnya sendiri bersetting pada akhir 1990-an di Inggris.
Kathy, yang berusia tiga puluh satu tahun dan telah belasan tahun menjadi perawat, mengenang teman-teman dekatnya semasa kecil di sebuah sekolah berasrama bernama Hailslam, khususnya dua teman yang terakhir dirawatnya.

Cerita kembali ke masa kanak-kanaknya di Haislam, tempat terpencil yang cukup menyenangkan namun agak aneh. Ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak mereka ketahui jawabnya tentang diri mereka sendiri. Kathy mengenang para guru sekaligus pengasuh mereka, antara lain Miss Emily, kepala Hailslam yang tegas, Miss Geraldine yang lembut, Miss Lucy yang suka berterus terang, dan Madame yang angkuh, yang sekali-sekali datang untuk mengambil karya seni terbaik mereka.

Mereka belajar dan wajib membuat karya seni – puisi, essay, gambar, patung – untuk dijual dalam acara Exchange, agar bisa mendapat kupon, yang nilainya sesuai dengan mutu karya yang dihasilkan. Kupon tersebut digunakan untuk membeli barang-barang pribadi ketika ada Sale, yang diadakan beberapa kali dalam setahun di asrama, Sale merupakan acara paling ditunggu-tunggu di Hailslam.
Oleh karena Exchange merupakan satu-satunya cara untuk mendapatkan barang pribadi dan terpilihnya karya oleh Madame berarti akan masuk dalam galeri, maka siswa yang karya-karyanya bagus akan lebih dihargai daripada yang tidak. Hal ini menyulitkan Tommy, yang tidak berbakat seni dan pemarah, meskipun ia kemudian berubah dan bisa menerima keadaannya. Kathy menaruh perhatian pada Tommy, demikian pula Ruth, sahabat Kathy yang berjiwa pemimpin. Mereka bertiga bersahabat, meskipun tidak tanpa konflik.

Mereka tidak tahu banyak tentang diri sendiri, kecuali bahwa kelak harus memberi donasi. Tapi mengapa mereka harus membuat karya untuk galeri? Apakah hasil penjualan karya mereka di galeri digunakan untuk membiayai hidup mereka? Tapi apa yang mereka buat hanyalah karya kanak-kanak. Tommy memiliki teori sendiri, bahwa karya itu digunakan untuk melihat jiwa mereka, agar Madame bisa menilai dengan baik pernyataan mereka, karena katanya jika terdapat dua orang yang benar-benar saling mencintai, masa donor mereka bisa ditangguhkan. Benarkah?

Semakin besar, para siswa tersebut tahu bahwa mereka adalah klon dan kelak akan menjadi donor, bahwa ada orang-orang di luar sana yang menjadi model bagi mereka, bahwa bercita-cita tinggi adalah sia-sia. Pilihan hidup bagi mereka hanyalah menjadi perawat, sampai tiba masanya menjadi donor. Tapi semuanya tidak benar-benar jelas, karena para guru dan pengasuh tidak pernah benar-benar menjelaskannya pada mereka, dan asrama mereka terisolasi sehingga tidak dapat bergaul dengan orang-orang normal lain.
Hanya keberanian dan tekad Tommy serta Kathy di saat-saat terakhir Tommy yang dapat menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi, yaitu ketika mereka bertanya langsung kepada Madame di rumahnya, lama setelah asrama Haislam dibubarkan, dan ketika semuanya sudah terlambat…

Novel ini ditulis dari sudut pandang Kathy. Di bagian pertama yang cukup panjang adalah kenangan Kathy akan masa kanak-kanaknya di Hailslam dengan Ruth dan Tommy sebagai teman terdekatnya. Kemudian masa ia pindah dari Hailslam ke asrama lain di Cottage lalu menjalani pelatihan sebagai perawat. Terakhir adalah masa Kathy sebagai perawat para donor selama bertahun-tahun, mengapa ia memilih merawat para donor dari tempat yang sama dengannya,.termasuk Ruth dan Tommy setelah mereka menjadi donor, serta mencoba menerima hidupnya sebagaimana adanya.

Hampir setengah bagian novel merupakan uraian masa kanak-kanak Kathy di Hailslam, yang ditulis dengan rinci dari sudut pandang anak-anak dan memerlukan kesabaran pembaca – yang menurut saya dapat diperpendek. Namun bagian ini mempersiapkan pembaca pada bagian-bagian berikutnya yang menggambarkan perasaan dan akhir hidup mereka yang menyedihkan. Pada bagian ini penulis berhasil menggambarkannya dengan sangat baik sehingga menimbulkan kesedihan yang sangat bagi pembaca: perasaan kesepian, kehidupan yang keras dan melelahkan, tiadanya keinginan, cita-cita pribadi, maupun rasa marah sebagai klon yang diciptakan untuk kepentingan orang lain.

Memang agak mengherankan juga, mengapa mereka, khususnya Kathy yang tegar, tidak marah menjadi klon yang diciptakan hanya untuk mendonorkan organnya berkali-kali sampai mati, dan tidak ingin mempertahankan hidupnya seperti manusia normal, dengan melarikan diri sebelum menjadi donor, misalnya. Apa yang menyebabkan mereka demikian pasrah? Hal ini tidak diungkapkan secara eksplisit oleh pengarang. Mungkinkah pelajaran atau brainwashing selama di asrama, ketidaktahuan akan kehidupan di dunia luar, dan pandangan rendah terhadap mereka oleh orang-orang normal, sudah cukup untuk membuat mereka patuh sehingga tidak menginginkan apapun untuk diri sendiri?

Ketika Kathy bertanya, mengapa Miss Lucy keluar dari Hailslam, Miss Emily menjawab, bahwa Miss Lucy berpendapat anak-anak harus diberitahu hal sebenarnya yang akan mereka hadapi, namun ia tidak setuju, karena ia ingin melindungi anak-anak, jika perlu dengan berbohong untuk menyembunyikan beberapa hal, sehingga mereka dapat menikmati seni dan pelajaran mereka. “Untuk apa kalian mau melakukannya, seandainya tahu apa yang ada di masa depan kalian? Kalian akan bilang semua tidak ada gunanya, dan bagaimana kami bisa berdebat dengan kalian? Maka dia harus pergi.”

Sebagian besar dari kita juga tidak tahu apa yang ada di masa depan, dan seandainya kita tahu, mungkin juga akan merasakan kesia-siaan itu. Karena kita tidak tahu, maka setiap orang menikmati hidupnya dan berusaha melampaui mortalitas dengan meninggalkan sesuatu: karya seni, tulisan, anak, kekayaan, pelajaran, atau apapun, untuk mengurangi rasa sia-sia. Dan sebagian besar merasa hidupnya memiliki tujuan yang berarti, meskipun hanya menjadi orang-orang biasa yang tidak meninggalkan sesuatu yang besar…apakah hal tersebut juga karena brainwashing sejak kecil dalam masyarakat yang juga tidak mempertanyakan sesuatu pun lagi? Bukankah dalam masyarakat juga tidak ada tempat untuk mereka yang terlalu jujur mengemukakan kesia-siaan hidup manusia?
Banyak pengarang mengungkapkan kesepian dan kesia-siaan hidup manusia dengan caranya masing-masing. Yang jelas, novel ini tidak menceritakan tentang proses penciptaan manusia klon, dasar sainsnya, proses penggunaannya, siapa penggunanya, dan hal-hal teknis sejenis sebagaimana seharusnya dalam kisah fiksi ilmiah.

Bagi yang pernah membaca karya Kazuo Ishiguro sebelumnya, seperti The Remains of the Day, pemenang Man Booker Prize tahun 1989, mungkin gaya tulisan Ishiguro di novel ini akan tidak asing lagi, meskipun kisahnya sama sekali berbeda. Novel ini aslinya diterbitkan pada tahun 2005 dan telah difilmkan pada tahun 2011.